Ade Tasyan Reza : Jatuh Bangun “MENGURUS” Futsal

20170312005LFIP

Bukanlah perkara muda membangun sebuah tim futsal yang handal, “sehat”, stabil, dan lainnya. Apalagi sekelas PFL (Profesional Futsal League) yang notabene kasta tertinggi kancah futsal Nasional Indonesia. Banyak aspek yang musti diperhatikan. Banyaknya pemain top bercokol disatu tim yang kuat secara finansial bukan jaminan untuk tim tersebut menjadi yang terbaik dalam tiap penampilan.

Coach Ade katakan kepada LFI, “setelah menonton laga PFL 2017 yang baru saja dimulai, saya menilai persoalan utama yang terlihat nyata (masih) saja sama. Pembangunan sebuah tim yang terkesan alakadar, cuma ada beberapa tim yang tampak membangun timnya dengan serius. Itu sangat terlihat dengan jelas dan mudah (ingat ! latihan adalah gambaran sebuah pertandingan, sebaliknya pertandingan adalah gambaran sebuah latihan! jadi jelas ORANG yang menonton akan PAHAM bagaimana CARA BERLATIHMU saat MEREKA menonton pertandingan yang kamu mainkan)”.

Tidak dipungkiri magnet Futsal semakin kuat dengan munculnya beberapa pemain muda dengan skill berkelas serta antusias penonton yang melimpah dalam tiap pertandingan. Hal tersebut musti lah terus terpelihara dengan peningkatan kwalitas (bukan hanya kwantitas) masing-masing tim yang turut serta di liga itu sendiri.

Kembali kepada pembangunan sebuah tim yang “handal, solid” secara utuh; Beberapa persoalan utama yang musti diperhatikan adalah:

  1. Pola Recruitment SDM

Managemen/pemilik klub hendaknya tahu  dan paham mengenai calon pelatih, official yang nanti nya akan menangani tim. Sebab harmonisasi hrs tercipta dan terjaga baik antar semua elemen didalam tim. Lalu pelatih kepala terpilih pun musti tepat memilih orang yang nanti akan berkerja dengannya (assisten dan pemain) mereka musti “paham” betul filosofi, karakter dan cara bermain seperti apa yang pelatih kepala inginkan. Hingga tidak kesulitan lagi saat melakukan persiapan menghadapi liga atau turnamen. Jadi tidak asal tunjuk dan rekrut.

  1. Persiapan Menghadapi Kompetisi

Persiapan utk menghadapi sebuahh kompetisi idealnya 4-6 bln (sekelas pro liga) sebelum kompetisi tersebut dimulai. Yang jadi masalah besar  adalah: kebanyakan klub  selalu memulai dengan alasan sama dari tahun ke tahun yakni : kesulitan pembiayaan utk melaksanakan persiapan panjang tersebut. Padahal jika dikalkulasi dengan seksama, tidak juga begitu mahal dibanding hasil yang di inginkan. Sebagai contoh: setelah selesai melakukan seleksi secara keseluruhan, para pemain dikembalikan ke klub/academy mereka masing – masing dengan catatan :20170312006LFIP

  • Seluruh pemain yang lolos seleksi tersebut diberikan program latihan oleh pelatih kepala dimana nanti pemain tersebut bermain (dikompetisi) dan terus dipantau berkala.
  • Klub yang melaksanakan seleksi musti merangkai hubungan yang baik dengan klub/academy asal sipemain yang lolos seleksi, melakukan komunikasi secara berkala dan menyetujui, melaksanakan kesepakatan – kesepakatan yang disepakati. Akan timbul pertanyaan : lalu apa keuntungan bagi klub/academy yang pemainnya lolos seleksi? Bisa saja; Klub yang merekrut pemain untuk berlaga di kompetisi nanti men support klub/academy tempat sipemain berasal; dengan jalan memberi kontribusi alat – alat latihan seperti bola, bibs, marker, cones dan juga ilmu-ilmu futsal terupdate agar progress klub/academy asal pemain tersebut akan terus terjaga dengan baik. Tidak melulu kontribusi berbentuk uang. klub/academy mana yang tidak bangga bila pemain nya dapat ikut serta dikasta tertinggi futsal tanah air? Artinya program klub/academy yang dijalankan selama ini dpt disebut berhasil.
  • 2-3bulan menjelang kompeti barulah klub yang akan berlaga memanggil kembali pemain-pemain tersebut untuk melaksanakan pemusatan latihan penuh, dan melakukan kontrak bagi pemain yang benar-benar sudah fix. Lalu menjalankan program guna menghadapi kompetisi liga.

20170312008LFIPIni hanya sebagian kecil contoh pembentukan sbh tim yang akan bertarung dikompetisi. Hal yang lebih penting adalah: jangan pernah mengabaikan keberadaan academy -academy yang berserakan di seluruh nusantara ini. “Pengalaman saya yang sudah berkeliling Indonesia, begitu banyaknya pemain-pemain muda bertalenta tinggi didaerah namun tidak terdeteksi, tidak tertangani dgn baik sehingga mereka menjadi “layu sebelum berkembang”, pangkas Coach Ade ini. Banyaknya ke “muncul” an pelatih-pelatih diseluruh negeri adalah suatu hal yang sangat bagus dan harus kita apresiasi. Namun musti digaris bawahi, predikat pelatih bukanlah suatu yang sepele, bukan hanya sekadar pengakuan dengan mengikuti coaching clinic, kursus lalu dpt sertifikat, license dan lain-lain. Lalu merasa cukup dgn hal tersebut. Pelatih yang baik adalah pelatih yang terus ber inovasi dgn penemuan-penemuan baru agar metode latihan berkembang serta dipahami dgn baik oleh akademia-akademia ditempat mereka melatih. Dengan begitu talent-talent yang berserakan diberbagai penjuru tanah air ini dapat tertangani dengan baik, tidak lagi layu sebelum berkembang, dapat merasakan atmosfir liga yang sebenarnya lalu bermuara pada Timnas Futsal Indonesia yang kita banggakan.

Coach Ade berpesan “ Untuk para akademia-akademia sendiri jangan lah merasa cukup utk belajar/berlatih mencapai titik tertinggi. Tidak ada hal mudah utk menjadi sukses. Butuh perjuangan yang gigih, pengorbanan yang tidak sedikit. Dan jika sudah sampai pada tempat “tertinggi” tetaplah merunduk, tetaplah berpijak dibumi, simpan sombongmu baik-baik. Ingat: diatas langit masih ada langit lainnya!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *